Posted by : Suka-suka Olshop Rabu, 03 September 2014


Disadari atau tidak, dunia digital marketing telah berevolusi, setidaknya pada 5 tahun terakhir. Digital marketing yang saya kenal di 2009 telah jauh berbeda di 2014 dengan begitu banyak dinamika teknologi dan pemahaman kita pada subjek digital marketing itu sendiri tentunya. Saya coba resapi betul isu-isu yang saya temukan pada kesempatan berdiskusi dengan klien, ngobrol dengan para ahli, juga tentunya artikel yang banyak berseliweran di internet. Saya coba untuk merangkumkan hasil penemuan saya tersebut melalui 5 poin berikut:
1. Content Marketing                                   
Pemahaman tentang content marketing cukup beragam. Ada yang menyamakanya dengan branded content dan native advertising. Ada juga yang bilang bahwa content marketing = viral content. Tapi saya punya pemahaman sendiri mengenai content marketing. Saya menyandarkan pemahaman content marketing pada konsep owned media, earned media, dan paid media. Saya memahami dengan sederhana bahwa content marketing adalah mempublikasikan content brand melalui media yang dimilikinya (owned media). Konsekuensi dari konsep tersebut adalah “Brand becomes Media Organization” mengapa begitu? Karena brand di saat ini membuat content jauh-jauh lebih banyak dibanding dahulu sebelum era digital marketing dimulai.
Baik client dan agency perlu memperhatikan hal ini dengan baik karena pekerjaan ini memerlukan energy yang cukup besar untuk akhirnya bisa bersaing dengan strategi content marketing brand competitor. Sekarang fans / follower memfollow sebuah brand tidak melulu karena ada unsur kedekatan dengan sebuah brand. Tapi juga karena konten yang dihasilkan oleh brand tersebut sangat relevan dengan interest dan berguna bagi si follower tersebut. Hati-hati perusahaan media akan tersaingi dengan portal website seperti gilamotor.com, supersoccer.co.id, clear.co.id dll. Perusahaan media tidak hanya kehilangan potensi pendapatan iklan dari brand tersebut tapi malah bisa saja menjadi saingan karena brand tersebut juga membuka unit usaha yang sama, yaitu menjual space iklan dikarenakan banyaknya audience yang sudah loyal di sebuah website dari sebuah brand. Esekusi dari content marketing sangat beragam, tidak melulu hanya aktivasi content di social media, tapi juga bisa sejauh memiliki “TV station” di YouTube dengan menghadirkan webisode, atau juga blog korporat.
2. Social Customer Service
Di berbagai buku yang membahas tentang perilaku Gen Y, salah satu poin yang menarik adalah bahwa Gen Y adalah text generation bukan call generation. Artiny Gen Y jauh lebih nyaman memilih texting sebagai bentuk komunikasinya dibanding menelpon. Perpindahan orientasi dari synchronous communication menjadi asynchronous communication sedikit banyak dipengaruhi oleh boomingnya situs jejaring social (social media) dimana kita bisa mengatur betul bagaimana kita terlihat oleh orang lain dalam berkomunikasi, tidak spontan seperti kita tahu dalam aktifitas menelpon atau face-to-face communication. Dengan adanya pemahaman perubahan perilaku ini maka kehadiran brand di dunia digital tidak hanya semata-mata menghadirkan konten-konten yang keren melalui strategi content marketing yang telah saya jabarkan sebelumnya. Tetapi juga brand harus sangat memperhatikan bagaimana channel-channel di digital mampu menjawab berbagai macam keluhan dan pertanyaan konsumen tentang brand. Saya melihat betul bahwa cukup banyak brand yang berhenti hanya dalam usaha membuat konten sebagus-bagusnya di digital (content marketing) tapi lupa dengan usaha untuk membawa pekerjaan customer service juga ke digital. Alhasil, begitu banyak keluhan & kritikan (earned media) yang dibaca oleh banyak orang lain yang bisa mengancam reputasi dari brand tersebut. Pekerjaan ini tidak mudah dan sesungguhnya salah satu bagian dari tanggung jawab PR. Disini kesempatan PR dan customer service berkolaborasi untuk bisa membuat solusi dari pekerjaan besar ini.
3. Influencer Marketing
Kita tidak lagi hidup di era One-to-Many Communication, kita saat ini hidup di era Many-to-Many Communication, komunikasi menjadi kian horizontal. “Everyone has a voice”, kini kita tidak lagi melulu bergantung pada media-media besar yang memiliki kekuatan akses penyebaran informasi kepada khalayak luas. Entah itu website, blog, akun FB, akun Twitter dll, masyrakat kini memiliki media yang bisa menjadi cara untuk mengkomunikasikan dirinya ke banyak orang. Fenomena ini berdampak positif dan juga negatif bagi pengelolaan reputasi brand di media. Coba anda bayangkan bagaimana mengelola fans / follower yang sudah berjumlah ratusan ribu atau mungkin jutaan. Bagaimana mengatur agar mereka tidak bilang negative tentang brand kita? Untuk itu lah saat ini para digital marketer memiliki pekerjaan besar untuk mengelola mereka dengan cara Influencer Marketing. Apa itu Influencer Marketing? Simplenya adalah sebuah upaya untuk bisa “engage” dengan para influencer yang relevan dengan brand kita. Tujuan dasarnya adalah bagaimana kita bisa dekat dengan orang-orang yang memiliki influence besar terhadap hal-hal yang berkaitan dengan brand kita. Bila sudah terjalin hubungan baik dengan mereka maka kita bisa mengambil keuntungan dari mereka untuk mendukung langkah-langkah yang brand kita lakukan.
4. Digital Marketing R.O.I
Pekerjaan digital marketing sangat diuntungkan dengan kenyataan bahwa kita bisa mengukur segala bentuk aktifitas campaign kita. Di lain sisi, hal menjadi sangat transparan bagi klien untuk bisa menelusuri kinerja pekerjaan kita dari awal hingga akhir. Tentunya tidak hanya masalah transparansi, itu baru dari sisi kulitnya saja, pertanyaan lainnya adalah bagaimana campaign yang telah kita lakukan memiliki korelasi langsung terhadapa peningkatan awareness brand kita dan juga pastinya adalah pertumbuhan volume sales. Keahlian untuk memilih dan memilah data menjadi wajib bagi para digital marketer karena pada kenyataanya walaupun di dunia digital marketing memiliki begitu banyak data tapi pada prinsipnya kita hanya perlu data yang benar-benar kita butuhkan. Teman-teman bisa banyak baca disiplin ilmu Conversion Rate Optimization untuk mempelajari dari mulai menentukan budget campaign untuk mengejar objektif yang telah ditetapkan hingga bagaimana menjaga bahwa perencanaan bisa benar-benar teresekusi dengan baik pada kenyataanya.
5. Cross Media Campaign
Isu yang terakhir berkaitan dengan trend fragmentasi media yang semakin seru di dunia media dan hiburan saat ini. Anda pernah dengar istilah IMC, Integrated Marketing Communication kan tentunya? Nah , Cross Media kurang lebih adalah pengembangan dari konsep tersebut. Konsep dari cross media ini dibagi dua, Sequential dan Simultaneous. Disebut sequential adalah ketika berbagai jenis media (TV, Radio, Website, Flyer dll) saling mendukung satu dan lainnya membentuk sebuah kronologis / narasi yang menambah experience dari audience dibanding hanya menikmati di satu medium saja. Saya beri contoh di Social TV, kini experience nonton TV tidak hanya berhenti ketika acara TV program selesai namun si pemirsa bisa lanjut untuk melihat content – content tersebut di website akun social media TV program tersebut. Kemudian dari sisi simultaneous, kini pemirsa bisa menikmati kecanggihan Second Screen Experience technology dengan melakukan sinkronisasi antara aplikasi mobile dengan tayangan TV yang sedang berlangsung di televisi.
5 poin tersebut bisa teman-teman optimisasi lebih lanjut guna mendapatkan hasil yang lebih baik di setiap campaign digital marketing yang akan atau sedang dilakukan oleh teman-teman. Silakan untuk komentar atau mungkin ada isu lain yang teman-teman pembaca bisa tambahkan.


{ 3 komentar... read them below or Comment }

Welcome to My Blog

Popular Post

Blogger templates

Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

- Copyright © Ricky DCC Information -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -